Idul Fitri dan Nyepi Jadi Momentum Toleransi di Bali

Denpasar, M-TJEK NEWSPerayaan Idul Fitri 1447 Hijriah yang berhimpitan dengan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 menjadi momentum istimewa bagi masyarakat Bali. 

Momen langka ini mempertemukan dua hari besar keagamaan dalam waktu yang sangat berdekatan pada Maret 2026.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali menilai perjumpaan tersebut bukan sekadar kebetulan kalender.

Sebaliknya, peristiwa ini membuka peluang memperkuat harmoni dan toleransi di Pulau Dewata.

  • MUI Bali: Momentum Istimewa Bangun Kerukunan

Ketua MUI Bali, Mahrusun Hadyono, menyampaikan bahwa berhimpitnya Idul Fitri dan Nyepi menjadi kesempatan penting untuk mempererat hubungan antarumat beragama.

“Terkait berhimpitnya antara Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriah merupakan momentum istimewa untuk menjalin dan membangun kembali kerukunan umat beragama antara keduanya,” kata Ketua MUI Bali Mahrusun Hadyono, di Denpasar, dikutip inilah.com, Senin (23/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa peristiwa seperti ini tidak terjadi setiap tahun. Oleh karena itu, masyarakat Bali perlu memaknainya sebagai ruang memperkuat kebersamaan di tengah keberagaman.

  • Selisih Hanya Dua Hari

Tahun ini, Nyepi jatuh pada 19 Maret 2026, sedangkan Idul Fitri diperkirakan berlangsung pada 21 Maret 2026. Dengan demikian, kedua hari besar tersebut hanya berselisih dua hari. Bahkan, pada organisasi Islam tertentu, selisihnya bisa hanya satu hari.

Menurut Mahrusun, kondisi tersebut menjadi kesempatan penting bagi umat Hindu dan Muslim yang hidup berdampingan di Bali untuk menunjukkan harmonisasi dalam kehidupan sosial.

  • Umat Muslim Diminta Taat Aturan Nyepi

Selain itu, MUI Bali meminta seluruh masyarakat, khususnya umat Muslim, agar menaati arahan terkait pelaksanaan Nyepi. 

Pasalnya, Catur Brata Penyepian berlangsung lebih dulu, sementara sebagian umat Islam masih menjalankan ibadah tarawih menjelang Idul Fitri.

“Khususnya umat Muslim agar mentaati dan memenuhi seruan bersama terkait pelaksanaan Hari Suci Nyepi yang bersamaan dengan jelang perayaan Idul Fitri, tetap menjaga kerukunan antara kedua umat beragama,” ujarnya.

Dengan sikap saling menghormati, MUI Bali optimistis masyarakat mampu menjaga suasana tetap kondusif.

  • Belajar dari Pengalaman 2004

Lebih lanjut, Mahrusun mengingatkan bahwa masyarakat Bali pernah menghadapi situasi serupa pada 2004, ketika Nyepi dan Idul Fitri berlangsung bersamaan.

“Hal tersebut berdasarkan kejadian beberapa tahun yang lalu tahun 2004, dimana saat itu Nyepi bersamaan dengan hari Idul Fitri, tapi berjalan lancar, Hari suci Nyepi juga berjalan khidmat, ini karena kearifan kedua tokoh agama,” kata dia.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa komunikasi dan kedewasaan tokoh agama mampu menjaga situasi tetap aman dan damai.

  • Perkuat Dialog Antarumat

Karena itu, MUI Bali berharap komunikasi antarumat dan antartokoh agama terus diperkuat menjelang Maret 2026. Dengan dialog yang terbuka dan saling pengertian, masyarakat dapat menjaga suasana tetap khidmat, aman, dan harmonis.

Momen berhimpitnya Idul Fitri dan Nyepi diharapkan menjadi contoh nyata toleransi yang hidup di tengah masyarakat majemuk Bali. (ARIF)