Gus Mus Ingatkan Bahaya Ketamakan dan Angan Kosong

Jakarta, M-TJEK NEWS – Ketamakan menjadi frasa kunci utama yang harus diwaspadai setiap manusia. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), menekankan bahwa berbagai bentuk kehinaan sering muncul dari benih ketamakan yang dibiarkan tumbuh dalam diri seseorang.

  • Benih Ketamakan Menjadi Akar Kehinaan

Gus Mus mengutip ungkapan hikmah Ibnu Athaillah:

“Tidak akan tumbuh cabang-cabang kehinaan kecuali dari benih-benih ketamakan,” ujar Gus Mus dalam pengajian Ramadhan yang ditayangkan YouTube NU Online, diakses Rabu (11/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa ketamakan ibarat biji yang ditanam di dalam diri. Jika benih itu tumbuh, perilaku buruk akan muncul dan menjerumuskan seseorang pada kehinaan. 

Seseorang yang dikenal baik pun bisa berubah menjadi hina apabila ketamakan dibiarkan berkembang.

  • Dampak Ketamakan pada Kehidupan Sehari-hari

“Orang yang tadinya baik bisa menjadi hina. Mengapa? Karena dalam dirinya muncul benih ketamakan. Kalau benih itu dibiarkan, lama-lama akan berkembang dan membawa pada kehinaan,” jelas Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin itu.

Gus Mus menegaskan pentingnya menghilangkan sifat tamak sejak awal. Ia mengingatkan agar manusia tidak membiarkan sikap serakah bersemayam dalam dirinya karena hal itu dapat menurunkan martabat.

  • Bahaya Mengikuti Angan-angan Kosong

Selain ketamakan, Gus Mus menyoroti risiko mengikuti angan-angan kosong. 

Ia menekankan bahwa angan semata tidak dapat menuntun seseorang pada kebenaran.

“Sering kali orang mengikuti angan-angannya sendiri. Ia berpikir, ‘Kalau begini nanti pasti begini.’ Padahal itu hanya dugaan,” ujarnya dalam pengajian yang mengulas Kitab Al-Hikam.

Gus Mus memberi contoh seseorang yang sering bercermin lalu berangan-angan menjadi bintang film. 

Angan-angan itu bisa mendorong tindakan tertentu, namun jika berasal dari ketamakan atau keinginan berlebihan, hasilnya tidak selalu baik.

“Kadang orang merasa angan-angannya menuju kebaikan, tetapi ternyata pada akhirnya justru membawa pada sesuatu yang tidak baik,” kata kyai yang juga penyair dan budayawan itu. (ARIF)