Indonesia Bantah Pernyataan Israel di Sidang DK PBB

Jakarta, M-TJEK NEWS Sidang DK PBB memperlihatkan perdebatan antara Indonesia dan Israel terkait penyerangan pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) di Lebanon yang menewaskan prajurit TNI.

Indonesia melalui Wakil Tetap RI untuk PBB, Umar Hadi, secara tegas membantah tuduhan Israel yang menyebut Hizbullah sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam insiden tersebut.

  • Indonesia Soroti Akar Konflik

Perdebatan antara Indonesia dan Israel terjadi dalam rapat Dewan Keamanan PBB yang disiarkan melalui kanal United Nations pada Selasa (31/3/2026) malam.

Dalam forum itu, Umar Hadi menilai pernyataan Israel membangun framing yang menyesatkan terkait peristiwa penyerangan tersebut.

“Siapa yang bertanggungjawab menciptakan dan melanggengkan zona permusuhan itu?,” kata Umar.

Selain itu, Umar Hadi menegaskan bahwa penyerangan terhadap pasukan UNIFIL yang menewaskan tiga prajurit TNI tidak terjadi begitu saja.

Ia menyebut serangan militer Israel yang berulang ke Lebanon Selatan sebagai penyebab utama situasi konflik yang terus berlanjut.

  • Indonesia Sebut Serangan Bisa Termasuk Kejahatan Perang

Umar Hadi menyatakan bahwa serangan tersebut bahkan menargetkan pasukan UNIFIL dan menghalangi pasukan perdamaian menjalankan resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 yang mengamanatkan solusi damai untuk Lebanon.

Oleh karena itu, ia menilai serangan tersebut menjadi ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional.

“Serta dapat dianggap sebagai kejahatan perang,” ujar Umar Hadi.

Selain menyampaikan bantahan, Indonesia juga mendesak Dewan Keamanan PBB menindaklanjuti hasil penyelidikan dan meminta pertanggungjawaban hukum kepada pelaku serangan.

Dengan demikian, Indonesia menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak boleh dibiarkan tanpa proses hukum.

“Imunitas tidak boleh menjadi standar, dan serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak boleh diulang atau ditoleransi,” tuturnya.

  • Indonesia Tuntut Perlindungan Pasukan Perdamaian

Pada saat yang sama, Indonesia menuntut semua pihak yang bertikai untuk menghormati hukum internasional dan menghentikan serangan yang membahayakan personel serta properti PBB.

Kemudian, Indonesia juga menyampaikan penghormatan kepada prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian tersebut.

“Kami membuat tuntutan ini sebagai referensi mendalam untuk pasukan penjaga perdamaian kami yang gugur, yang kepadanya Indonesia memberikan penghormatan tertinggi atas pengorbanan tertinggi mereka dalam melayani perdamaian dan keamanan internasional,” ucap Umar.

“Untuk tujuan ini, Indonesia tetap berkomitmen untuk berkontribusi pada pemeliharaan perdamaian dan keamanan seperti yang diamanatkan oleh Konstitusi kita,” kata dia.

  • Kronologi Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

Sementara itu, Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) melaporkan tiga prajurit penjaga perdamaian asal Indonesia meninggal dunia dalam waktu kurang dari 24 jam di wilayah Lebanon selatan.

Pada Senin (30/3/2026), Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa sebuah ledakan yang “tidak diketahui asalnya” menghancurkan kendaraan di dekat kotamadya Bani Haiyyan.

Dalam insiden tersebut, dua prajurit TNI gugur dan dua lainnya mengalami luka-luka, dengan satu di antaranya dalam kondisi serius.

Beberapa jam kemudian, insiden terpisah kembali terjadi dan menewaskan satu prajurit TNI lainnya setelah proyektil menghantam pangkalan UNIFIL di dekat desa Adchit al-Qusayr, Lebanon selatan.

Hingga kini, UNIFIL masih melakukan penyelidikan atas kedua insiden tersebut. (ARIF)