Lampung Selatan, M-TJEK NEWS — Polemik terkait insiden kaca pecah di SDN 1 Sidoharjo, Kecamatan Jati Agung, kini mulai menunjukkan titik terang.
Pihak sekolah memberikan klarifikasi tegas bahwa tidak pernah ada tuduhan yang diarahkan kepada pihak mana pun, termasuk santri pondok pesantren.
Kepala SDN 1 Sidoharjo, Enny Kurniasih, menjelaskan bahwa pihak sekolah baru mengetahui kejadian tersebut saat aktivitas kembali berjalan normal.
Saat itu, kondisi kaca sudah dalam keadaan rusak tanpa diketahui siapa pelakunya.
“Kita nggak tahu ya, sekolah kan sampai siang. Besoknya kita datang, kaca itu sudah bolong. Kita juga tidak melaporkan ke mana-mana, hanya ke komite,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pihak sekolah sejak awal tidak memiliki dasar untuk menyimpulkan pelaku kejadian tersebut.
“Kita nggak ada bukti, masak langsung ngomong. Kita nggak pernah menyebut santri,” tegasnya.
Guru Pastikan Tidak Pernah Menuduh
Sementara itu Klarifikasi juga datang dari Muryati, salah satu guru di SDN 1 Sidoharjo yang sempat disebut dalam informasi yang beredar.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menyampaikan tuduhan kepada santri.
“Saya klarifikasi, saya tidak pernah menuduh bahwa santri yang memecahkan kaca,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa saat pertama kali datang ke sekolah, kondisi kaca sudah dalam keadaan pecah.
“Saya buka pintu sekolah, kaca sudah pecah. Jadi saya tidak tahu siapa yang memecahkan,” jelasnya.
Isu yang Berkembang Tidak Berdasar
Penjelasan dari pihak sekolah sekaligus meluruskan narasi yang sempat berkembang di masyarakat dan mengaitkan kejadian tersebut dengan santri dari Ponpes Darussalamah.
Faktanya, tidak ada satu pun pernyataan resmi dari pihak sekolah yang mendukung tuduhan tersebut.
Pihak sekolah menyampaikan bahwa:
- Tidak ada saksi yang melihat langsung kejadian
- Tidak ada bukti yang mengarah kepada pihak tertentu
- Tidak pernah ada pernyataan resmi yang menuduh santri
Dengan kondisi tersebut, fakta yang ada menunjukkan bahwa informasi yang menyebut keterlibatan santri tidak memiliki dasar yang kuat.
Permasalahan Sudah Diselesaikan
Pihak sekolah juga memastikan bahwa persoalan ini telah selesai secara internal.
Kaca yang rusak telah diperbaiki dan kegiatan belajar mengajar kembali berjalan seperti biasa.
“Sekarang sudah diganti, sudah tidak ada masalah apa-apa lagi,” kata Enny.
Muryati pun mengimbau agar isu ini tidak lagi diperpanjang karena dapat berdampak pada berbagai pihak.
“Saya mohon, sudahlah ini dihentikan semuanya. Kalau masalah kecil dibesar-besarkan di media, itu merugikan nama baik sekolah dan pesantren,” ujarnya.
Utamakan Kondisi yang Kondusif
Sekolah menekankan pentingnya menjaga situasi tetap kondusif, terutama di lingkungan pendidikan.
Pendekatan yang bijak dan kekeluargaan dinilai menjadi langkah terbaik dalam menyikapi persoalan seperti ini.
“Yang penting anak-anak kita, baik santri maupun siswa, tetap baik-baik saja,” tutupnya.
Dugaan yang Mengarah ke Ponpes Dinilai Merugikan
Munculnya dugaan yang sempat mengarah ke Ponpes Darussalamah dinilai berpotensi merugikan nama baik lembaga pendidikan tersebut.
Apalagi, tudingan itu berkembang tanpa dasar yang jelas serta tidak didukung bukti maupun pernyataan resmi dari pihak sekolah.
Narasi yang tidak terverifikasi berisiko menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat dan menciptakan stigma negatif terhadap pesantren.
Padahal, berdasarkan klarifikasi yang telah disampaikan, tidak ada satu pun fakta yang mengarah pada keterlibatan santri dalam insiden tersebut.
Oleh karena itu, semua pihak diharapkan lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, serta mengedepankan prinsip kehati-hatian agar tidak merugikan pihak lain, khususnya lembaga pendidikan yang memiliki peran penting dalam pembinaan generasi muda. (ARIF)














