Lampung Selatan, M-TJEK NEWS Menjelang pelaksanaan Konferensi Anak Cabang (Konferancab) Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Jati Agung pada Sabtu malam Ahad (25/4/2026), perhatian kader dan masyarakat mulai mengarah pada momentum penting ini.

Namun di tengah suasana tersebut, masih muncul satu pertanyaan sederhana yang kerap terdengar, khususnya di kalangan warga Nahdliyin kultural:

  • Apa itu GP Ansor?

Pertanyaan ini menjadi relevan, mengingat tidak semua masyarakat memahami peran dan fungsi Gerakan Pemuda Ansor dalam struktur Nahdlatul Ulama

Karena itu, Konferancab ini menjadi momentum tepat untuk mengenal lebih dalam Ansor, bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan pemuda.

  • Ansor: Wadah Pemuda Nahdlatul Ulama

Gerakan Pemuda Ansor merupakan badan otonom Nahdlatul Ulama yang menjadi ruang berhimpun, berproses, dan berkhidmat bagi kalangan pemuda. 

Di dalamnya, kader ditempa untuk memiliki komitmen keislaman, kebangsaan, dan kepedulian sosial.

Ansor tidak hanya hadir sebagai organisasi formal, tetapi juga sebagai gerakan yang aktif di tengah masyarakat—mulai dari kegiatan sosial hingga penguatan nilai-nilai keagamaan berbasis Ahlussunnah wal Jamaah.

  • Berakar dari Sejarah Panjang

Sejarah GP Ansor bermula dari organisasi pemuda Syubbanul Wathan yang berdiri pada tahun 1924.

Organisasi ini menjadi cikal bakal lahirnya gerakan pemuda NU yang kemudian berkembang dan mengalami beberapa perubahan nama hingga menjadi Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).

Nama “Ansor” diambil dari sebutan sahabat Nabi Muhammad SAW di Madinah yang dikenal sebagai penolong perjuangan Islam. 

Filosofi ini menjadi dasar gerakan Ansor hingga kini: menjadi penolong, pelopor, dan penjaga nilai-nilai agama.

Pada 14 Desember 1949, organisasi ini resmi menggunakan nama Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan terus berkembang menjadi salah satu kekuatan pemuda terbesar di Indonesia.

  • Dari Sejarah ke Aksi Nyata

Dalam perjalanannya, GP Ansor tidak hanya hidup dalam sejarah, tetapi juga hadir nyata di tengah masyarakat. 

Berbagai kegiatan seperti kaderisasi, pengabdian sosial, hingga pengamanan kegiatan keagamaan melalui Banser menjadi bagian dari peran aktif Ansor.

Kehadiran Ansor juga menjadi jembatan antara nilai-nilai tradisi keislaman dengan dinamika kehidupan pemuda masa kini.

  • Kandidat Calon Ketua Mulai Mengemuka

Sementara itu, di Jati Agung sendiri, sejumlah kader terbaik mulai mengemuka dan menyatakan kesiapan untuk maju dalam bursa pencalonan Ketua PAC GP Ansor masa khidmat 2026–2029.

Tercatat, ada tiga nama yang siap bertarung dalam Konferancab mendatang, yakni Waryanto dari Desa Margo Lestari, Faisal Wahyudin dari Desa Margo Rejo, dan Uhibbuddin Al Haqq dari Desa Gedung Agung.

Ketiganya merupakan kader aktif yang dinilai memiliki kapasitas, pengalaman, serta komitmen dalam mengembangkan organisasi ke depan.

Dengan latar belakang dan karakter yang berbeda, masing-masing kandidat diyakini akan membawa warna tersendiri dalam kontestasi ini, sekaligus menawarkan gagasan untuk kemajuan GP Ansor Jati Agung.

  • Konferancab: Lebih dari Sekadar Pemilihan

Konferancab bukan sekadar agenda rutin organisasi atau ajang memilih ketua baru.

Lebih dari itu, forum ini menjadi momentum strategis untuk menentukan arah gerakan pemuda NU di tingkat kecamatan.

Selain itu, Konferancab juga menjadi ruang konsolidasi kader, penguatan jaringan, serta refleksi terhadap peran Ansor di tengah masyarakat.

  • Tantangan dan Harapan ke Depan

Di tengah potensi besar yang dimiliki Jati Agung—terutama dengan banyaknya pesantren—peluang kaderisasi Ansor sebenarnya sangat terbuka. 

Namun, tantangan tetap ada, khususnya dalam menjangkau pemuda di luar lingkungan pesantren.

Karena itu, ke depan GP Ansor dituntut lebih adaptif, inklusif, dan mampu menghadirkan program-program yang relevan dengan kebutuhan generasi muda.

  • Saatnya Mengenal, Saatnya Terlibat

Momentum Konferancab ini tidak hanya menjadi milik kader internal, tetapi juga menjadi pintu bagi masyarakat untuk lebih mengenal GP Ansor.

Dari yang awalnya belum tahu, menjadi paham.

Dari yang hanya melihat, menjadi tertarik.

Dan pada akhirnya, dari sekadar mengenal… bisa tumbuh keinginan untuk ikut berkhidmat. (ARIF).