Bantah Gudang Beras, Amran Tegaskan Stok Nasional Melimpah
Jawa Barat, M-TJEK NEWS — Bantah gudang beras menjadi penegasan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat merespons isu gudang beras kosong di tengah kondisi pasokan nasional.
Ia menegaskan bahwa stok beras nasional saat ini berada dalam kondisi aman bahkan melimpah.
Selain itu, Amran menilai narasi yang menyebut kekurangan beras berpotensi menggiring opini publik.
Oleh karena itu, ia mengingatkan bahwa isu tersebut bisa memengaruhi arah kebijakan pemerintah, khususnya terkait impor beras.
Narasi Kekurangan Beras Dinilai Arahkan Impor
Lebih lanjut, Amran menjelaskan bahwa opini tentang kekurangan beras dapat mendorong keputusan impor.
Ia menegaskan bahwa jika pemerintah mempercayai narasi tersebut, maka langkah yang diambil akan mengarah pada kebijakan yang tidak berpihak pada petani dalam negeri.
“Nah, kalau ada yang mengatakan gudang itu tidak ada isinya atau kurang, artinya apa? Kalau kita percaya dia, keputusan kita apa? (Kalau) kurang. Berarti impor, kan? Kalau mau impor, berarti pro pada petani negara lain,” ujar Amran di Kawasan Pergudangan Genesis, Karawang, Kamis (23/4/2026).
Dengan demikian, ia menegaskan bahwa kebijakan impor beras justru menguntungkan produsen luar negeri dibandingkan petani Indonesia.
Amran Sentil Isu “Antek Asing”
Selanjutnya, Amran menilai pihak yang menyuarakan kekurangan beras tidak berpihak pada kepentingan nasional.
Bahkan, ia secara tegas menyebut narasi tersebut dapat mengarah pada kepentingan asing.
“Pro petani negara lain berarti antek asing. Jadi harus dikonstruksi. Apa maunya? Apakah tidak sayang petani kita lagi berbahagia sekarang?” kata dia.
Oleh sebab itu, ia mengajak semua pihak untuk lebih bijak dalam menyampaikan informasi terkait kondisi pangan nasional.
Stok Beras Nasional Capai 5 Juta Ton
Di sisi lain, Amran menegaskan bahwa stok beras nasional saat ini mencapai sekitar 5 juta ton. Angka tersebut menunjukkan kondisi pasokan yang tinggi dan stabil.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa fenomena yang terjadi bukan kekurangan beras, melainkan kondisi pasar yang cenderung jenuh akibat melimpahnya stok di masyarakat.
“Kalau kita lihat, itu menandakan bahwa pasar jenuh. Bahwa horeca (hotel, restoran, catering) dan rumah tangga itu 12 juta-12,5 juta ton, itu tertinggi selama kita ada pengukuran,” ujarnya.
Pasar Jenuh Hambat Distribusi Beras
Lebih jauh, Amran mengungkapkan bahwa tingginya stok beras di rumah tangga dan sektor horeka membuat distribusi dari pemerintah tidak terserap secara optimal.
Namun demikian, kondisi tersebut justru menunjukkan bahwa ketersediaan beras di masyarakat sangat mencukupi.
Ia juga membandingkan kondisi saat ini dengan tahun sebelumnya, ketika penyerapan bantuan pangan masih relatif lebih tinggi.
Kini, kebutuhan tambahan beras menurun karena stok di masyarakat sudah terpenuhi.
“Rumah-rumah penuh dengan beras. Jadi itu menandakan seandainya ini terserap habis, berarti kosong di lapangan. Itu logikanya,” kata Amran.
Dengan demikian, ia kembali menegaskan bahwa isu kekurangan beras tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan. (ARIF)














